Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Membantu Anak Dalam Menghadapi Perceraian Orang Tua

 Perpisahan bukan suatu hal yang membahagiakan dan tentunya ingin dijauhi semua pasangan. Suami dan istri tentu tidak ingin inginkan perpisahan dan menginginkan hubungan rumah tangga tahan lama sampai akhir hayat.

Tetapi, ada faktor-faktor yang membuat biduk rumah tangga berbuntut pada perpisahan, factor paling menguasai ialah ekonomi dan ketidaksamaan konsep.

Dampak dari perpisahan atau korban umumnya ialah si anak. Kerap kali, psikis si anak jadi terusik karena perpisahan orangtua.

Itu kenapa, perlu dipikir matang-matang saat sebelum ambil perlakuan yang cukup penting itu. Janganlah sampai anak jadi memiliki masalah di masa datang karena broken home.

cara membantu anak dalam menghadapi perceraian orang tua


Berikut cara membantu anak dalam menghadapi perceraian orang tua

1. Semenjak Awalnya, Jauhi Berkelahi di Depan Anak

Perpisahan umumnya diawali dengan pertikaian untuk pertikaian di antara pasangan. Anak bisa mempunyai trauma tertentu bila menyaksikan orangtua berkelahi.

Itu penyebabnya, bila mulai ada perbedaan di antara pasangan, seharusnya orangtua tidak berkelahi langsung di muka anak, apa lagi sampai terjadi kontak fisik dalam keluarga.

2. Terangkan Secara Terbuka Berkenaan Keadaan Anda dan Pasangan

Orangtua tak perlu sembunyikan perpisahan ke anak. Bila menyaksikan tidak ada kedatangan satu antara orangtua di dalam rumah dalam periode waktu lama, anak pasti bertanya.

Seharusnya anak korban perpisahan dikasih tahu . Maka, berterus teranglah ke anak jika Anda dan pasangan akan pisah hingga kemungkinan anak akan turut satu antara orangtua.

3. Beri Pemahaman jika Ke-2 Orang Tua Masih tetap Mengasihi Mereka

Langkah hadapi perpisahan orangtua perlu pemahaman dari anak. Terangkan pada sang kecil, walaupun dia akan turut satu antara orangtua, baik Anda atau pasangan tetap mengasihinya.

Hal yang terlihat simpel ini bisa membuat anak korban perpisahan tidak berasa kurang kasih-sayang orangtua.

4. Tidak boleh Menghasut Anak Membenci Pasangan Anda

Supaya perubahan psikis anak korban perpisahan baik, jauhi menjelek-jelekkan pasangan Anda di depannya. Ini cuman akan membuat tidak suka ke pasangan Anda. Pada akhirannya, anak akan kesusahan membangun jalinan dengan pasangan Anda.

5. Koordinir untuk Jaga Anak

Yakinkan Anda dan pasangan sudah membahas dengan matang berkenaan hak asuh anak. Walau jalinan Anda dan pasangan usai, ini tak berarti Anda biarkan sang kecil berasa tidak dicintai dan terlantar.

Langkah hadapi perpisahan membutuhkan koordinir yang bagus di antara Anda dengan pasangan. Sedapat mungkin Anda atau pasangan berganti-gantian menemani anak berkembang kembang.

Rencanakan waktu untuk berjumpa, misalkan saat Anda memperoleh hak asuk, yakinkan anak berjumpa dengan pasangan Anda di lain kali, seperti akhir minggu dan hari liburan.

6. Tolong Anak Mendapati Hoby dan Talenta

Langkah mendidik anak korban perpisahan setelah itu mendapati hoby dan talenta anak untuk mengubahnya dari beberapa pikiran negatif. Dengan hoby dan talenta yang sama sesuai, anak akan habiskan waktu ke yang positif.

Apa lagi bila hoby dan talenta diperkembangkan sampai ke ranah professional. Ini pasti bisa membuat berprestasi.

7. Tolong Anak Mempunyai Lingkungan dan Teman-Teman yang Memberi dukungan

Factor yang lain paling penting untuk anak dalam hadapi perpisahan orangtua ialah rekan-rekan dan lingkungan. Anda perlu pastikan jika lingkungan sang kecil bisa memberi dukungan tumbuh dan menolongnya berasa tidak kesepian.

8. Tidak boleh Memaksa Kemauan Anda ke Anak

Umumnya singgel parents kehilangan kendalian saat mengasuh anak. Pada akhirnya mereka memaksa kehendaknya ke anak secara keseluruhan, tanpa pasangan yang menyeimbangi atau melawan pada hal itu.

Bukanlah mengajari anak langkah hadapi perpisahan, Anda justru membuat ketekan. Ini sudah pasti tidak bagus untuk sang kecil. Diamkan anak lakukan hal yang dia meminati, asal masih tetap positif.

9. Jadilah Rekan untuk Anak

Anak korban perpisahan membutuhkan support dari Anda. Berlaku terbuka ke anak ialah satu antara langkah penting untuk membangun jalinan seperti rekan.

Berlaku terbuka akan membuat anak nyaman berbicara dengan Anda hingga anak tidak sangsi untuk bercerita apa yang mereka alami. Anda juga semakin lebih pahami keadaannya.

10. Menjaga Komunikasi yang Baik dengan Anak

Jadi rekan untuk anak memerlukan komunikasi yang bagus. Komunikasi tidak sekedar hanya bicara, tapi juga dengarkan. Dengan jaga komunkasi, Anda dan sang kecil bisa sama-sama pahami keperluan semasing.

11. Ketahui Secara Awal Pertanda Abnormalitas Mental pada Anak

Bila Anda menyaksikan peralihan pada anak, seperti cepat geram, emosi tidak konstan, kerap bersedih, condong diam, mengungkung diri, malas bicara, malas makan, tidak bisa tidur atau banyak tidur, Anda harus siaga.

Pertanda di atas bisa memperlihatkan ada abnormalitas mental pada Anak. Cepatlah tanyakan ke psikiater atau psikiatri untuk pengatasan selanjutnya.

BundaKita
BundaKita Emak / Ngeblog / Nyuci / Nyambel / Ngemong dst.