Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mengajari Anak Bertanggung Jawab

Mengajarkan anak bertanggungjawab sebagai kewajiban untuk orangtua. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versus online, tanggung-jawab ialah kondisi harus memikul semua sesuatunya; peranan terima pembebanan, sebagai karena sikap faksi sendiri atau faksi lain.

Dengan latih bertanggungjawab sejak dari awal, sang kecil tidak melakukan tindakan ceroboh dan berperangai sesenang hati di masa datang. Orangtua mengajari akan makna resiko dan resiko atas perlakuan yang diambil.

Kerap kali, anak malas tanggung-jawab atas kekeliruan karena kerap dibela orangtua, dan itu ikuti mereka sampai remaja. Hal tersebut membuat jadi anak yang manja dan tidak dapat berdikari.

Mengajarkan sikap tanggung-jawab tidak sekedar hanya memakai kalimat. Anak perlu memperoleh contoh yang riil dari sikap orangtua karena pada intinya, keluarga sebagai awalnya muda pengajaran kehidupan untuk anak.

Cara Mengajari Anak Bertanggung Jawab


Berikut langkah mengajarkan anak mempunyai rasa tanggung-jawab

1. Mengajari dengan Memberikan Contoh

Mengajarkan tanggung-jawab pada anak tidak dapat cuman lewat kalimat. Orangtua harus lebih dahulu memberi contoh riil.

Misalnya, bila Anda ingin mereka memenuhi janjinya, tepati dahulu janji yang sudah Anda bikin. Contoh yang lain, bila Anda ingin mereka mengontrol kemarahannya, beri contoh Anda dapat mengontrol emosi Anda.

Pakai tehnik pernafasan dan menjauhlah saat Anda berasa kecewa. Ucapkan sebenarnya pada anak, bila Anda perlu waktu untuk menentramkan diri saat emosi.

Dengan itu, anak akan menyaksikan bagaimanakah cara perlakukan seseorang dalam soal memenuhi janji, mengontrol kemarahan, dan berlaku saat geram. Ingat-ingatlah anak seperti sebuah cermin yang hendak mengikuti apa yang Anda kerjakan.

2. Ikutsertakan Anak dalam Tugas Rumah

Untuk latih rasa tanggung-jawab anak, orangtua bisa ajak anak berperan serta dalam tugas di dalam rumah. Misalkan, mengajak ia membereskan tempat tidur, bersihkan kamar, membersihkan piring, memberikan makan kucing, atau membereskan meja belajarnya.

3. Tambahkan Tanggung Jawab Anak sama sesuai Umurnya

Orangtua perlu menimbang kekuatan anak saat memberi pekerjaan kepadanya. Misalkan, seorang anak berumur 5 tahun tidak bisa membersihkan piring tanpa jatuhkan atau merusakkannya.

Coba berikan anak peranan lebih yang disamakan umurnya agar mereka dapat semakin meningkatkan tanggung jawabannya. Misalkan, awalnya Anda memberikan tugasnya membereskan mainan, bersamaan pertambahan umur Anak dapat dikasih tanggung-jawab menyirami tanaman.

4. Berikan Anak Sanjungan saat Menuntaskan Pekerjaannya

Janganlah lupa untuk mengucapkan terima kasih saat mereka menuntaskan kerjanya. Tidak boleh malu untuk memuji saat mereka sukses kerjakan tugas secara baik.

5. Peringatkan hal Resiko

Tanggung-jawab tidak dapat jauh dari resiko dan resiko. Itu kenapa, terangkan karena yang dapat ada bila suatu hal tidak mereka kerjakan atau mereka acuhkan.

Misalkan, bila lupa kerjakan PR sekolah, anak akan dijatuhi hukuman oleh guru, atau bila telat memberikan makan, hewan piaraan dapat sakit.

6. Yakin pada Kekuatan Anak

Diamkan anak Anda coba lakukan beberapa hal baru. Misalkan, saat sang kecil coba membuat buku pelajarannya sendiri atau mengikat tali sepatunya sendiri.

Pantau aktivitas mereka. Bila nampaknya betul-betul kesusahan, tanya apa mereka memerlukan kontribusi. Bila mereka menjelaskan 'tidak', duduk dan diamkan mereka terus coba.

7. Sabar

Latih anak berperangai bertanggungjawab perlu proses panjang. Karenanya, orangtua dituntut untuk sabar dan memberi waktu ke anak untuk belajar menuntaskan pekerjaannya.

8. Yakinkan Keperluan Anak Tercukupi

Anak-anak akan berperangai lebih bagus bila mereka cukup makan dan cukup istirahat. Itu kenapa, orangtua perlu pastikan untuk memberi makanan dengan nutrisi imbang. Beri waktu tidur yang memadai ke anak.

BundaKita
BundaKita Emak / Ngeblog / Nyuci / Nyambel / Ngemong dst.